Kelahiran Anak Pertamaku
Aku tau, ini sulit bagi suami. Disaat itu Allah berikan amanah untuk kita, calon bayi yang dititipkan Allah dalam rahimku yang harus kita jaga. Setelah usia kandungan sudah tua, dokter memberikan sepucuk surat untukku kalau satu-satunya jalan agar aku dan bayi selamat adalah caesar. Aku yang tak pernah dirawat di rumah sakit, tiba-tiba harus dioperasi. Memang berat bagi pikiranku kala itu.
Tak bisa ku bayangkan, kuliahku akan seperti apa jika aku harus istirahat total di kampung. Dan suamiku bagaimana, ia pasti akan mengkhawatirkanku, bagaimana juga dengan kuliahnya dan juga pekerjaannya.
Mendengar prediksi dokter, aku semakin berjuang agar bisa melahirkan normal. Tetapi suami dan seluruh keluargaku menyarankan untuk terima saja saran dari dokter. Akhirnya aku pun menyepakati dengan dokter hari untuk aku dioperasi.
Suamiku juga mengatur jadwal cuti nya, dia hanya mendapat izin cuti satu minggu. Aku termasuk orang yang terlalu berpikir panjang, padahal belum tentu kenyataanya seperti dalam pikiranku. Yang aku bayangkan saat itu, jika suami cutinya hanya satu minggu, bagaimana kami akan menjalani kehidupan baru ini?. Tapi disetiap menungku yang acap kali meneteskan airmata, suamiku tak lupa menghibur.
Hari yang ditunggupun tiba, dari semalam tidurku tak nyenyak. Sesekali masih meneteskan air mata kebahagiaan dan kesedihan. Hari ini pertemuanku dengan manusia mungil yang berada dalam perutku dipercepat. Selama ini hanya bisa merasakan tendangannya dan melihatnya melalui hasil print USG. Dan hari ini aku akan dirawat dirumah sakit, tentu makanan dan segalanya tidak senyaman di rumah. Ah entahlah, yang jelas aku serahkan kepada Allah segala takdir yang telah ditetapkanNya untukku.
Aku, suami, dan orangtuaku berangkat menuju Rumah Sakit. Karena masih dalam masa pandemi covid-19, aku tes swab dulu. Alat yang dimasukkan ke hidungku membuat aku bersin dan kurang nyaman. Setelah hasilnya keluar, aku dan suami pergi cek darah dan mengurus surat-surat yang diperlukan. Yang akhirnya urusan bolak balik berakhir diruang tunggu operasi.
Ruang tunggu operasi, tangan yang tak pernah lepas dari tangan suami dan mulut yang selalu minta agar suami selalu mendo'akan. Dan perawat memasang kateter membuat air mata menetes, tapi suami selalu menguatkan pikiranku bahwa aku akan jadi ibu.
Dan tiba pada giliranku untuk memasuki ruang operasi, aku dikelilingi orang yang tak dikenal, hanya dokter konsultasiku yang menyapa "bagaimana kabarnya elsa".
Pekerjaan mereka yang tak ku kenal pun dimulai, mereka dengan santainya ngobrol sesama mereka. Di dalam ruangan dinyalakan musik yang lembut yang tidak membuat stress. Sepertinya aku sedang berada di ruang romantis. Sesekali terdengar bunyi besi seperti gunting, entah apa lah itu. Sedangkan aku, separuh tubuhku kaku karena sudah dibius. Mulut yang tak berhenti berzikir dan melafalkan ayat-ayat Al-Qur'an. Sesekali dadaku terasa sesak.
Dan tangisan lucu itu terdengar. Suasana hatiku berubah, dan air mata tak sengaja menetes mendengarnya. Beberapa menit setelah itu akupun keluar dari ruang operasi. Ibuku sudah menunggu di ruang tunggu. Ingin ku peluk ibu, dan ingin ku katakan "terimakasih ma, sudah berjuang untukku sampai aku bisa melihat dunia, walau cara kita berbeda ma", tapi apalah daya kaki ku yang terasa tebal karna bius yang belum hilang, aku berikan senyum bahagia kepada ibu pertanda aku alhamdulillah baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian, suamiku datang bersama pria yang akan mendorong tempat tidurku menuju kamar rawat inap. "bang, urang rumah panggamang bang" kata suami ke pria itu memberi isyarat agar pria itu mendorong tempat tidurku dengan pelan.
Komentar
Posting Komentar