Saya Minang asli yang dibesarkan dengan bahasa Minang dan segala aturan-aturan hidup bersama masyarakat Minang. Walau Orang Tua saya bukanlah pemuka adat Minang, tapi saya dibesarkan dan selalu diajarkan tentang Raso jo Pareso. Setelah menamatkan dunia Sekolah Menengah, saya melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi pada Program Pendidikan Bahasa Arab dan sudah menamatkannya pada tingkat magister. Walau jurusan saya menjurus ke Bahasa Arab, tapi matakuliah yang dipelajari tak jauh dari pendidikan bahasa. Banyak hal yang digali. Bahasa tak hanya disampaikan dari kata-kata, tapi bahasa bisa tersampaikan melalui gerak gerik, ekspresi dan lain-lain. Saya bandingkan dengan kebiasaan di Minangkabau, hal itu sama persis. Sehingga membuat saya merasa lebih dalam dan mudah sekali memahami orang. Saya rasa bagi yang menginyam pendidikan bahasa lainnya juga begitu. Akan saya kaitkan dengan sebuah kejadian. Suatu hari, saya membawa anak laki-laki saya usia 3 tahun shalat jum'at. Kami ikut be...
Aku tau, ini sulit bagi suami. Disaat itu Allah berikan amanah untuk kita, calon bayi yang dititipkan Allah dalam rahimku yang harus kita jaga. Setelah usia kandungan sudah tua, dokter memberikan sepucuk surat untukku kalau satu-satunya jalan agar aku dan bayi selamat adalah caesar. Aku yang tak pernah dirawat di rumah sakit, tiba-tiba harus dioperasi. Memang berat bagi pikiranku kala itu. Tak bisa ku bayangkan, kuliahku akan seperti apa jika aku harus istirahat total di kampung. Dan suamiku bagaimana, ia pasti akan mengkhawatirkanku, bagaimana juga dengan kuliahnya dan juga pekerjaannya. Mendengar prediksi dokter, aku semakin berjuang agar bisa melahirkan normal. Tetapi suami dan seluruh keluargaku menyarankan untuk terima saja saran dari dokter. Akhirnya aku pun menyepakati dengan dokter hari untuk aku dioperasi. Suamiku juga mengatur jadwal cuti nya, dia hanya mendapat izin cuti satu minggu. Aku termasuk orang yang terlalu berpikir panjang, padahal belum tentu kenyataanya seperti ...
Komentar
Posting Komentar