Orang Minang dan Belajar Bahasa
Saya Minang asli yang dibesarkan dengan bahasa Minang dan segala aturan-aturan hidup bersama masyarakat Minang. Walau Orang Tua saya bukanlah pemuka adat Minang, tapi saya dibesarkan dan selalu diajarkan tentang Raso jo Pareso.
Setelah menamatkan dunia Sekolah Menengah, saya melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi pada Program Pendidikan Bahasa Arab dan sudah menamatkannya pada tingkat magister.
Walau jurusan saya menjurus ke Bahasa Arab, tapi matakuliah yang dipelajari tak jauh dari pendidikan bahasa. Banyak hal yang digali. Bahasa tak hanya disampaikan dari kata-kata, tapi bahasa bisa tersampaikan melalui gerak gerik, ekspresi dan lain-lain. Saya bandingkan dengan kebiasaan di Minangkabau, hal itu sama persis. Sehingga membuat saya merasa lebih dalam dan mudah sekali memahami orang.
Saya rasa bagi yang menginyam pendidikan bahasa lainnya juga begitu. Akan saya kaitkan dengan sebuah kejadian.
Suatu hari, saya membawa anak laki-laki saya usia 3 tahun shalat jum'at. Kami ikut bersama ayahnya dan kami menunggu diluar masjid selama ayahnya bertindak sebagai Khatib dan melakuksn shalat jum'at. Ini sudah menjadi kebiasaan bagi kami semenjak saya menyapihnya diusia 2 tahun. Selain untuk melengahnya, ini juga untuk mengenalkannya tentang kewajiban laki-laki Muslim.
Nah pada hari itu, sebelum shalat jum'at ada telpon dari Fulan (tidak disebutkan iinisialnya) yang rumahnya tidak jauh dari masjid itu. "Di rumahlah ibuk manunggu, lai ado urang rumah awak", kata Fulan. "Disiko sajolah pak, sibuyuangnyo lah tabiaso ikuik, ndak baa di siko sajo do pak", kata suami saya menjawab telpon tersebut. Dari jawaban suami saya itu memiliki makna segan, karna nanti akan merepotkan orang dan itu hanya basa basi. Karena yang saya pahami dikebiasaan orang Minang, kalau sekali saja orang mengajak berarti itu hanya basa basi.
Setelah selesai shalat jum'at, kami melanjutkan aktivitas dan tidak terpikir sama sekali perihal pembicaraan ditelepon tadi.
Dan kami berjumpa dengan Fulan tadi, "dak jadi tibo tadi, lah payah rang rumah wak mamasak", katanya dengan wajah agak memerah sambil berjalan dan tidak berhenti. Saya yang juga mendengar itu langsung kaget. Dan langsung bercakap dengan suami. "baa kok mode tu bana tu yah?" kata saya ke suami. "kecewa apak tu wak ndak tibo nampaknyo", jawab suami saya. Suasana hati saya sangat tidak nyaman mendengar kata-kata itu.
Jika beliau berucap "Baa kok ndak tibo tadi?", itu saja kami sudah merasa bersalah. Dan jika beliau lewat tanpa suara, kami juga akan merasa bersalah. Ini sangat kejam menurut pandangan saya.
Akhirnya setelah selesai beraktivitas, saya masih merasa tidak nyaman. Walau suami saya sudah berusaha menenangkan dan memberikan pemahaman kalau si Fulan bukan orang Minang dan bukan sarjana dan magister bahasa. Dan akhirnya suami langsung membawa saya ke rumah Fulan.
Sesampai di sana adzan maghrib dan istri Fulan bergegas untuk memasak di dapur. Dan kami makan malam di rumah Fulan. Seakan tidak terjadi apa-apa. Suasana pembicaraan tetap hangat. Setelah makan kami pamit pulang.
Di perjalanan pulang ke rumah, kami pun mulai lega. Dan mengambil hikmah dan kesimpulan dari kejadian tadi. Entah zamannya entah memang karna Fulan bukan asli Minang, ternyata percakapan ditelepon bukan basa basi. Langsung teringat ilmu-ilmu yang kami pelajari dibangku perkuliahan dulu. Betapa pentingnya pendidikan bahasa bagi seseorang.
Komentar
Posting Komentar